Sabtu, 11 Juni 2011

MEMBANGUN KEBUN BENIH TANAMAN HUTAN

                                        Foto : Clonal Seed Orchard Pinus sp. di Colombia

Benih merupakan salah satu material yang sangat prioritas apabila akan membangun sebuah industri Hutan Tanaman. Tanpa Benih maka tidak akan mungkin diperoleh Bibit yang menjadi bahan pertanaman di lapangan. Benih sering didefinisikan sebagai biji tanaman yang telah diseleksi dan memiliki sifat-sifat baik untuk bahan pembuatan bibit tanaman.

Usaha Hutan Tanaman Industri, baik itu untuk keperluan pulp and paper, kayu pertukangan atau program penanaman areal dengan pepohonan tentunya tidak akan pernah lepas dari Benih. Benih Unggul sudah menjadi istilah yang umum dikenal oleh petani-petani di Indonesia dan pemerintah sudah membentuk Balai-Balai Penelitian Perbenihan untuk menguji, mengadakan, dan menyebarkan benih-benih unggul tersebut kepada petani-petani. Banyak jenis tanaman yang dikelola Departemen Pertanian misalnya jenis Padi, kacang kedelai, kacang tanah, jagung, cabe, karet, kelapa sawit, termasuk tanaman jarak, kenaf, tembakau, tanaman hias, dsb.  Tetapi untuk dunia Kehutanan, sistem pengadaan Benihnya masih jauh tertinggal dibanding dunia pertanian. Masih belum cukup luas proyek pembangunan Kebun Benih Tanaman Kehutanan oleh pemerintah. Bahkan rata-rata, perusahaan swasta bidang HTI mengusahakan pembangunan Kebun Benihnya sendiri.

Berbicara tentang Benih unggul pada tanaman Kehutanan yang banyak dikelola oleh perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN, tidak akan lepas dari tanaman exotic fast growing species yaitu species-species cepat tumbuh yang ditanam diluar penyebaran alami tanaman tersebut. Sebagai contoh, tanaman Acacia mangium tumbuh alami di hutan-hutan Pulau Ceram, Papua , Papua New Guinea dan Queensland Australia malah banyak dikembangkan di Sumatera dan Kalimantan , serta sebagian Jawa dan Sulawesi. Bahkan Acacia mangium juga secara luas dikembangkan diberbagai negara seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Philiphine, China dan India.  Tanaman Eucalyptus grandis yang tumbuh alami di Australia, malah menjadi tanaman primadona di Amerika Selatan ( Brazil, Argentina, Colombia, Venezuela, Uruguay , dll) dan Afrika Selatan. Sementara E. urophylla yang tumbuh alami di 7 pulau di Nusa Tenggara ( Flores, Timor, Adonara, Lembata, Alor, Pantar dan Wetar) malah sangat luas dikembangkan di Amerika Selatan, Afrika Selatan, Congo, China, India, dsb, dan di Indonesia malah jarang dikembangkan walaupun tanaman ini asli Indonesia.  Berkaitan dengan penanaman secara exotic tadi, maka pembangunan kebun benih menjadi krusial dan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan operasional penanaman, terutama perusahaan-perusahaan yang mengembangkan HTI secara besar-besaran.

Lokasi Penyebaran alami Eucalyptus urophylla
( Sumber : http://www.fao.org/docrep/008/y5901e/Y5901E15.htm)


Dalam membangun kebun benih tanaman hutan , tentunya tidak akan pernah lepas dari ilmu pemuliaan pohon, karena salah satu output (hasil) dari ilmu pemuliaan di lapangan adalah bagaimana sesegera mungkin menghasilkan kebun benih yang mampu memproduksi benih unggul.

Berdasarkan berbagai literature ada 4 kelas kebun benih yang dikenal secara umum di dunia kehutanan walaupun 4 jenis ini masih menjadi bahan diskusi diberbagai forum ahli-ahli kehutanan.  Keempat jenis itu adalah :
  1. Tegakan Benih ( Seed Stand - SS)
  2. Areal Penghasil Benih ( Seed Production Area – SPA)
  3. Kebun Benih Bibit ( Seedling Seed Orchard – SSO)
  4. Kebun Benih Klon ( Clonal Seed Orchard – CSO)

A.     Seed Stand – SS

Tegakan benih atau Seed Stand dibangun biasanya dari tegakan produksi dengan syarat-syarat tegakan tersebut memiliki pertumbuhan yang lebih dibanding tegakan seumur pada lokasi tersebut. Tenaga penyeleksi biasanya hanya mengandalkan informasi – informasi pertumbuhan tegakan dan phenotype pohon-pohon dalam populasi tersebut. Petak tanaman yang lebih baik dianggap dapat dijadikan areal penghasil benih atau dikonversi menjadi tegakan benih.  Petak ini tidak dijarangi (pohon-pohon inferior/jelek tidak ditebang) dan tidak dilakukan seleksi pohon yang akan diambil benihnya. Intinya seluruh pohon di petak tersebut dipanen untuk menghasilkan benih. Intensitas seleksi Seed Stand adalah yang terendah dibanding kebun benih lainnya.

B.     Seed Production Area - SPA

Areal Penghasil Benih atau SPA biasanya dipilih dari tegakan operasional yang hampir sama dengan sistem yang diterapkan pada Seed Stand. Perbedaannya pada SPA, tenaga penyeleksi sudah menebang pohon-pohon yang tumbuh inferior atau jelek pertumbuhannya sehingga pohon yang tertinggal sudah merupakan pohon-pohon yang phenotypenya paling baik dalam populasi tersebut. Penyeleksi juga mengatur jarak antar pohon yang ditinggalkan agar jarak antar pohon dapat mendukung pertumbuhan tajuk dan masuknya cahaya matahari yang penting dalam proses pembungaan dan pembuahan. Untuk tanaman fast growing seperti A.mangium, Gmelina, Sengon, Eucalyptus spp. ,  A.crassicarpa, dll, jumlah pohon yang dipelihara biasanya sekitar 200-300 pohon/ha  atau jarak antar pohon adalah > 5 m.  Tentunya pengaturan jarak ini memerlukan pertimbangan jumlah pohon yang akan ditinggal yang akan mempengaruhi produksi benih per satuan luasan.  Untuk tanaman slow growing seperti kelompok Meranti, Kapur, Jati, Bengkirai, jarak antar pohon juga akan lebih lebar, kemungkinan memerlukan jarak lebih dari 10 m untuk antar pohonnya sehingga jumlah pohon /ha hanya 50-80 pohon/ha. Intensitas Seleksi pada SPA sudah lebih baik dibandingkan SS

C.     Seedling Seed Orchard- SSO

Seedling Seed Orchard (SSO) dibangun dengan perencanaan yang matang saat akan dilakukan penanamannya. SSO bukan berasal dari tanaman produksi atau tanaman operasional, tetapi biasanya dibangun oleh peneliti pemuliaan menggunakan material (benih) yang telah terindentifikasi leluhurnya. Biasanya SSO dibangun dengan diawali dengan pembangunan Uji Keturunan (Progeny Test) yang didesain sebagai Uji Genetik  dengan rancangan penelitian yang baku. Progeny Test yang dibangun biasanya memiliki ratusan family (seedlot) yang terindentifikasi induk betinanya (female).  Dari Uji Genetik ini, pemulia pohon akan mengetahui nilai-nilai genetik masing-masing individu pohon dan masing-masing family (seedlot). Nilai-nilai Genetik yang diketahui adalah Heritabilitas dan dijabarkan untuk menentukan Family/Seedlot mana yang akan ditinggalkan  di dalam SSO tersebut untuk memberikan hasil Genetic Gain tertinggi. Perhitungan-perhitungan statistik sangat dibutuhkan untuk menyeleksi pohon yang akan ditinggal dan yang akan ditebang dan ini dikaitkan dengan persamaan-persamaan matematis (analysis of variance) turunan  dari persamaan P = G+E. (Phenotype = Genetic + Environment) . Tujuan akhirnya adalah SSO akan menyisakan Family atau Individu terbaik dan diharapkan dengan Family dan Individu terbaik ini, maka akan dihasilkan benih-benih yang unggul secara genetik. Intensitas Seleksi pada SSO ini sudah lebih tinggi dibanding SS dan SPA karena nilai-nilai genetic sudah diketahui , bukan hanya mengandalkan phenotype .

D.    Clonal Seed Orchard – CSO

Kelas Kebun Benih yang tertinggi kualitas genetiknya adalah Clonal Seed Orchard (CSO) . CSO dibangun dari Pohon-pohon plus yang terseleksi dengan ketat oleh pemulia pohon. Pohon-pohon plus yang dihasilkan juga berasal dari Uji genetik (seperti pada SSO) dan hanya sebagian kecil Individu terbaik  dari Progeny Test yang akan dimasukkan ke dalam CSO.  Cara Pembangunannya adalah dengan menentukan Individu Terbaik dari Family Terbaik di dalam Progeny Test, misalnya memilih 50 individu terbaik dari seluruh pohon yang diseleksi, kemudian mengembangkan /multiplikasi pohon-pohon tersebut dengan teknik vegetative propagation misalnya dengan cangkok (air layering), okulasi (budding), sambung (grafting), atau dengan metode vegetatif lainnya. Pohon-pohon plus sebagai sumber pembangun CSO dikenal dengan nama ORTET, sedangkan turunan-turunannya yang dihasilkan dengan teknik vegetative disebut RAMET. Untuk penamaan atau penomoran, sekumpulan RAMET yang berasal dari satu ORTET diberi nama CLONE.  Di dalam CSO, setiap ramet ditanam dengan design yang teratur untuk meminimalisasi adanya perkawinan kerabat/sekeluarga (inbreeding).  Dengan demikian di dalam CSO, peluang untuk terjadinya perkawinan antara ramet yang unggul lebih tinggi dibanding SSO.   CSO biasanya juga dibangun di wilayah yang diberi tanaman isolasi sehingga mengurangi potensi masuknya pollen (serbuk sari) dari tanaman dari luas CSO dan  yang tidak diinginkan.  Jarak tanam antar pohon di atur pada saat penanaman. Untuk tanaman fast growing biasanya dengan jarak > 7 m. Intensitas Seleksi CSO adalah yang tertinggi dari 4 kebun benih yang ada dan kualitas genetiknya tentunya adalah yang terbaik.


Untuk membangun kebun benih, tentunya membutuhkan sarana prasana dan sumber daya yang cukup karena proses pembangunan kebun benih tersebut biasanya memerlukan waktu bertahun-tahun. Misalkan untuk membangun CSO A.mangium dapat dihitung dengan tata waktu sebagai berikut :

1. Pembangunan Progeny Test                 : 1 tahun
2. Seleksi Pohon di Progeny Test             : setelah berumur 3.5 tahun
3. Perbanyakan  vegetatif Pohon Plus       :  +/- 1 tahun
4. Establish CSO dilapangan                    :  +/- 1-2 tahun

Jadi untuk dapat membangun CSO A.mangium dari sejak dibangunnya Progeny Test diperkirakan akan membutuhkan waktu 5-6 tahun.  Kemudian CSO akan mulai menghasilkan buah 1 tahun setelah penanaman.. Secara total untuk mendapatkan benih unggul dari CSO A.mangium memerlukan waktu sekitar 6-7 tahun, dan bisa lebih lama jika proses seleksi pohon plus dan perbanyakan vegetatifnya tidak dapat dijalankan dengan baik.

Masing-masing Kebun Benih di atas memiliki keuntungan dan kelemahan tersendiri dan tugas pemulia pohon yang akan menentukan kebun benih mana yang akan dibangun dan tata waktunya bagaimana sesuai kebutuhan perusahaan/lembaga yang melaksanakan.

2 komentar:

untung mengatakan...

tuk pemanenan buah di SSO, hendaknya terambil di semua famili atau terbatas family terbaik sj. karena selama ini yang dijalankan buah yg diambil adl composite shg semua pohon yg berbuah diambil semua. adakah pengaruhnya tuk kualitas tanman generasi selanjutnya.
peneliti dr palembang

Maurits Sipayung mengatakan...

Untuk Saudara Untung di Palembang:
Pemanenan SSO tentunya dapat dilakukan pada semua pohon yang telah terseleksi di dalam SSO tersebut. Tentunya pemanenan dilakukan berdasarkan tujuannya. Jika ditujukan untuk penanaman skala operasional (massal), maka pemanenan dilakukan dengan cara bulk( mencampur semua benih dari seluruh pohon yang ada di dalam SSO), tetapi jika kita ingin melakukan uji genetik generasi selanjutnya, maka pemanenan dapat dilakukan secara individu dengan tetap memperhatikan identitas individu tersebut.