Tampilkan postingan dengan label Eucalyptus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eucalyptus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 September 2013

Mengapa Clonal Forestry di Brazil sukses? (sebuah opini)

Clonal Forestry Brazil (photo from Dag Lindgren)
Tak dapat dipungkiri, revolusi kehutanan dengan sistem clonal telah dicapai Brazil dan beberapa negara di Amerika Latin seperti Argentina, Chile, Uruguay, Venezuela, dll termasuk Afrika Selatan, Australia dan Amerika Serikat. Bukan saja jenis Eucalyptus yang masuk ke dalam kelompok daun lebar (broad leaf), tapi juga sudah masuk ke jenis Conifer (Pinus) atau berdaun jarum.

Mengapa mereka bisa berevolusi?

Dari berbagai literatur, disebutkan, masuknya tanaman Eucalyptus ke Brazil diawali untuk kepentingan pembuatan arang (energi). Kemudian beralih ke produk kayu pertukangan (khusunya rel kereta api) dan papan. Dan sejak tahun 60-an, mulai merambah ke industri pulp and paper. Sejak tahun 60_an itu, dunia kehutanan di Brazil bagai melesat baik dari segi kuantitas (luas penanaman) , produksi kayu maupun kualitas kayu.

Lantas, mengapa sukses meningkat dari tahun ke tahun? Apa kunci suksesnya?

Pertanyaan itu selalu sulit untuk dijawab , bukan karena tak punya jawaban, tapi semakin dijawab semakin banyak pertanyaan selanjutnya, dan semakin sulit diikuti. Beberapa literatur yang pernah saya baca , kemudian beberapa komunikasi pribadi dengan pakar HTI di Brazil sana, juga beberapa kali kunjungan ke sana, menurut saya ada beberapa kunci sukses umum yaitu ;

1. Mereka punya cadangan Genetik Material (clone) yang unggul melalui proses tree improvement (pemuliaan) yang handal dan tak henti. 
Tidak heran melihat perusahaan-perusahaan Brazil punya cadangan clone di clonal testnya sampai ribuan clone, bahkan masih punya cadangan pohon plus sampai 5000 - 7000 pohon dalam satu perusahaan saja. Ini modal yang sangat besar yang memungkinkan mereka "mengotak-ngatik" genetik material untuk mendapatkan 10-30 the best clone setiap tahunnya. Mereka punya persilangan (hybrid) yang bukan saja antar species, tapi sudah masuk ke phase multispecies (misalnya antara E.grandis X E. urophylla x E.pellita), dll. Mereka biasanya punya cadangan clone di clone test multilokasi yang dibangun setiap tahun (sekali lagi : setiap tahun!) untuk mengantisipasi bagaimana perubahan lingkungan (cuaca) mempengaruhi klon termasuk upaya mengantisipasi korelasi Genetic versus Perubahan Iklim. Mereka sadar, perubahan iklim bukan untuk hanya dibahas, bukan hanya untuk diseminarkan tapi disikapi dan dilakukan usaha-usaha adaptasi menghadapi perubahan iklim itu. Sehingga tak heran, ketika tahun 2003 saya berkunjung ke salah satu perusahaan di Brazil, mereka punya 5 commersial Clone, dan pada tahun 2005, kelima clone itu sudah tergantikan dengan 10 new commercial clone yang lebih handal terhadap lingkungan dan lebih bagus kualitasnya. Saya berfikir, pantas mereka tetap "improve".

2. Mereka punya Cadangan Sumberdaya Manusia yang Handal. 
Setiap berbicara dengan pelaku-pelaku kehutanan dari Brazil, atau Amerika Latin umumnya, saya terus terang merasa minder. Minder karena ternyata mereka rata-rata berpendidikan S2 dan S3 untuk bidang HTI. Mereka sangat tertarik menimba ilmu sampai ke luar negeri hanya untuk mempelajari sub-sub bidang HTI seperti soil, silviculture, genetic, nursery, seed management, mekanisasi, dsb. Setiap bertemu kepala R&D di perusahaan Brazil yang besar-besar, selalu titelnya DR atau Phd......, paling tidak MSc bidang Hutan tanaman. Hebat. Dan kebetulan, perusahaan yang saya pernah kunjungi seperti Aracruz, veracel, Rigesa, International Paper, Klabin, punya staff-staff R&D yang rata-rata sudah mengeyam pendidikan S2. Bahkan ketika mengunjungi Aracruz tahun 1994, research centernya dikepalai seorang DR, membahawi 5 doktor untuk departemen Tree Improvement, Silviculture, Pest and Disease, Wood Technology dan Nursery. Kemudian masing-masing Doktor itu membawahi 3 orang MSc dan setiap master itu membawahi sekitar 5-10 orang Sarjana. Dalam hati saya berkata, "pantas mereka bisa fokus dan sukses". Melihat tanaman di Aracruz tahun 1994 , membuat saya terperangah, padahal waktu itu mereka akui MAI (mean annual increment) tegakan mereka hanya 35 m3/ha/tahun. Sekarang Aracruz mengakui tanaman Eucalyptus clone mereka punya MAI sekitar 45-50 m3/ha/tahun. Fantastis. Kalau dipanen umur 6 tahun, berarti mereka sudah menghasilkan 270 m3 - 300 m3 /ha. Kehandalan sumberdaya manusia bidang HTI di Brazil sangat didukung juga dengan berdirinya fakultas-fakultas jurusan Plantation di berbagai negara bagian Brazil. Lembaga-lembaga penelitian kehutanan di Brazil juga intens melakukan penelitian teknologi pemulian, silviculture, wood technology dan ekologi HTI. Banyak sekali kolaborasi penelitian antara lembaga-lembaga penelitian itu dengan perusahaan-perusahaan, dan ini didukung juga oleh dana dari pemerintah Brazil. Dengan semua itu, tak heran, jika banyak kalangan muda di Brazil tetap berminat menggeluti bidang HTI sebagai jalan karirnya.

3. Mereka didukung dengan penerapan Silviculture yang super Intensif.
Setiap membaca literatur hasil penelitian di Brazil dan negara-negara lainnya yang sukses pada Clonal forestry, selalu saja mengatakan "tanpa silviculture intensif material genetik unggul tidak akan menghasilkan apa-apa". Ya memang, secara teori juga demikian. Clone yang unggul secara genetik membutuhkan lingkungan dan budidaya yang sesuai untuk mampu mengeluarkan potensinya. Belum ada clone yang mampu tumbuh baik dilahan yang tidak sesuai kriterianya, atau di lahan yang tidak disiangi gulmanya, atau tidak dipupuk. Konsekuensi pemilihan clone adalah harus adanya syarat-syarat yang dipenuhi agar clone itu menghasilkan atau mengeluarkan potensinya. Clone bukan material "superman" yang dapat melawan gempuran kurang hara, persaingan gulma, atau kesalahan penanaman. Klon butuh spesifikasi lahan dan teknik budidaya yang khas, unik dan intensif . Dengan kondisi lingkungan yang cocok, barulah potensial genetiknya muncul dan keluar menjadi pohon yang pertumbuhannya luar biasa. Klon butuh penanganan yang intensif, bukan penanganan apa adanya dan atau kita berharap klon mampu melawan semua ketidaksesuaian itu. Tidak bisa. Kita harus menyiapkan kondisi yang baik agar potensinya keluar. Dengan itu, silviculture diperusahaan-perusahaan HTI di Brazil menerapkan tindakan yang super intensif. Lahannya dibajak, dipupuk, disiram, di weeding, dan bibitnya ditanam dengan teknik yang benar. Mereka mengkombinasikan seluruh teknik budidaya agar klon berada pada zona yang "nyaman" tumbuh dan menghasilkan kayu maksimal. Tak heran kita melihat mesin-mesin traktor bekerja di lahan HTI di Brazil, ada yang membajak tanah, menghancurkan seresah (mulcher), menebarkan pupuk, menyemprotkan herbisida, dsb. Teknologi permesinan dibidang HTI di Brazil sana sepertinya sudah sama dengan teknologi pertanian di Amerika , Australia atau Jepang. Mereka faham, silviculture-lah yang menjadi jalan (way) untuk menelurkan (menghasilkan) potensi emas (unggul) Klon yang di tanam. Dan tak sekedar wacana, mereka melakukannya seoptimal mungkin, sampai potensi genetik, potensi lahan, potensi iklim dan potensi manusia tersalurkan seluruhnya demi produktivitas kayu HTInya. Tak heran MAI 70-80 bisa tercapai dibeberapa petak di sana.

4.Mereka didukung dengan teknologi pembibitan yang modern dan hygine. 
Mereka disana sepertinya sadar benar, bahwa bibit itu adalah awal dari produktivitas HTI. Bibit itu menjadi garis start untuk meraih kemenangan dalam perlombaan. Posisi start yang baik akan menjadi modal pertama untuk mencapai garis finish yang terbaik. Seperti layaknya perenang dan pelari dilintasannya. Jika melihat nursery (pembibitan) tanaman HTI di perusahaan-perusahaan Brazil, rasanya sedih dan "galau", jika membandingkannya dengan nursery-nursery di Indonesia. Nursery disana tidak mewah, tapi sesuai fungsi dan tepat fungsi. Melihat kebun pangkas dengan lantai kering, bersih, dan tidak ada genangan, tidak ada gulma dan lumut, seakan_akan memasuki persemaian tanaman hias. Sistem pengairan dan pengabutan yang otomatis, air yang steril, sistem kerja yang ergonomis, sepertinya menjadi standar dalam Nursery HTI di Brazil. Sungguh nyaman dan efektif untuk menghasilkan bibit-bibit klon yang kuat, sehat dan sesuai jumlahnya. Sistem seleksi bibit yang ketat, pengangkutan yang aman dan melindungi bibit, dan kedisiplinan orang-orang menjadi hal-hal yang normal disana. Bagaimanapun tentunya sikap disiplin di Nursery sangat penting dan "kekakuan" untuk menentukan bibit lolos ke lapangan sepetinya jadi modal dan prasyarat utama dalam bisnis HTI di Brazil. Tidak ada toleransi terhadap kualitas bibit yang akan ditanam. Hanya ada kata "yes lolos" dan "no.. Riject". Tidak ada keraguan karena standar kualitas sudah dibakukan dan tidak ada tawar menawar. Teknologi pembitan klon eucalyptus dan pinus di Brazil menjadi "kiblat" berbagai negara.

Ke-empat hal di atas, menurut saya (opini saya) menjadi faktor kunci keberhasilan Brazil mengembangkan clone-clone unggulannya. Tentunya , apapun itu, mereka juga menghadapi problem, tetapi mereka berusaha tidak menolerir standar utama dalam membangun tegakan HTI. Jika bibit sudah bagus dan lolos seleksi, mereka tangani dengan baik, kemudian lahan harus super berkualitas, dan teknik penanaman juga tidak asal-asalan. Selanjutnya pemupukan dan pengendalian gulma yang tepat, tepat dosis, tepat cara, tepat waktu, menjadi modal pohon untuk tumbuh sempurna. Ujungnya, pohon itu tumbuh dengan "happy", tersenyum dan menuangkannya dengan pertumbuhan Tinggi, Diameter dan Wood properties. Tegakan HTI itu menjadi hijau, rata (homogen) dan alat-alat panen seperti harvesterpun bersuka cita menebang "kesuksesan" itu. Dan semua itu tentunya didasari keinginan (hasrat) semua stakeholder perusahaan-perusahaan HTI di sana, terutama pemodal/investornya dan pelaku_pelaku kehutanannya. Tidak akan mungkin semua itu terjadi jika pengusahanya misalnya berfikir setengah-setengah untuk membangun HTI yang produktivitasnya tinggi. Modal, usaha , kerja keras, skill, knowledge, hasrat, dan bukti nyata harus dipadukan agar menjadi sebuah kesuksesan.

Bagaimana kita menjadi seperti itu. Seorang konsultan dari Amerika pernah punya saran kepada saya , " Maurits, kalau mau seperti perusahaan Brazil, tirulah 100%, contoh dan ikuti 100% dulu, jangan berimprovisasi .... Dan lihat buktinya! Setelah kamu mencontohnya 100%, lihat hasilnya, baru saatnya kamu melakukan improvement... Jika hasilmu belum seperti mereka, berarti kamu belum melakukan improvement. Karena improvement itu adalah berhasil mengalahkan benchmark, dan benchmark HTI di dunia ini ya Brazil".

Kamis, 12 Juli 2012

TANTANGAN MENGEMBANGKAN CLONAL FORESTRY EUCALYPTUS (TANTANGAN #4 : PEMBANGUNAN CLONAL TEST DAN SELEKSI CLONE)

Setelah mendapatkan material genetik vegetatif dari pohon plus dengan berbagai metode yang dapat dikembangkan seperti dijelaskan sebelumnya yaitu dengan menumbuhkan trubusan (sprout) pohon plus kemudian memperbanyaknya melalui stek (rooted cutting)  dan salah satunya juga dengan bantuan Tissue culture. Program pengembangan trubusan pohon plus dengan teknik tissue culture  hampir sama dengan proses pembuatan bibit dengan rooted cutting (stek), hanya di dalam Laboratorium Tissue culture proses perkembangbiakannya dengan teknik micropropagation seperti terlihat pada foto di bawah ini


Apapun cara yang ditempuh dalam mengembangbiakkan pohon plus secara vegetatif, intinya material vegetatif itu harus menghasilkan bibit yang seragan umur dan ukurannya sehingga layak digunakan sebagai material pembangun clonal test.

Pembangunan clonal test dapat dijalankan dengan sempurna jika jumlah bibit (ramet) masing-masing plus tree mencukupi untuk kebutuhan penelitian sesuai dengan desain penelitian. Seperti disebutkan pada tulisan sebelumnya, diperlukan sekitar 72 bibit (ramet) dari masing-masing pohon plus untuk membangun 1 lokasi Clonal test dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap Berblok (Randomized Completely Block Design-RCBD)  dengan jumlah replikasi 9 ulangan dan tree plot per replikasi adalah 12 pohon dalam bentuk square plot (persegi)  3 x 4 tanaman.  Sketsa RCBD untuk 50 klon dengan tree plot 12 pohon per replikasi dapat dilihat di bawah ini

Desain ini dilakukan jika jumlah bibit mencukupi, dan dapat dirubah sesuai dengan ketersediaan jumlah bibit, lahan dan  sumber daya lainnya yang mempengaruhi desain penelitian. Tetapi paling tidak untuk memenuhi kaidah statistika masing-masing klon memiliki minimal 36 bibit yang ditanam dalam 6 replikasi dengan tree plot 6 pohon/replikasi (dalam bentuk baris - row).   

Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) merupakan rancangan penelitian yang paling umum dilaksanakan untuk membangun Clonal Test. Permasalahan yang sering terjadi adalah keterbatasan material bibit uji dari pohon plus. Diperlukan ajusmen-ajusmen rancangan agar clonal test tetap terbangun terutama mengatur tree plot per klon per replikasi.  Jika jumlah bibit per klon terbatas, bisa juga dipilih rancangan acak lengkap berblok dengan single tree plot ( 1 bibit per replikasi) dengan jumlah replikasi minimal 30.

Jika jumlah bibit seluruh klon cukup tersedia banyak, maka rancangan penelitian dengan tree plot berbentuk square (misalnya 3 x 4 tree per replikasi) menjadi pilihan yang paling ideal untuk membangun clonal test.   Bentuk plotnya dibuat square (persegi)  agar diperoleh kondisi plot yang mirip dengan kondisi di lapangan nantinya jika klon tersebut dikembangkan sebagai klon komersil.

Clonal test yang dibangun juga harus multilokasi atau multisite seperti halnya progeny test multilokasi / multisite. Penentuan jumlah lokasi uji juga sama dengan klassifikasi pada uji progeny test (lihat tantangan #2 ) dan tidak akan dibahas lagi dalam bab ini.  Pada intinya clonal test juga akan menentukan GXE atau interaksi Genotype dan Environment  dan dalam analisa datanya akan menggunakan persamaan-persamaan statistik yang mirip dengan progeny test.

Pemeliharaan clonal test harus dilaksanakan secara intensif agar benar-benar faktor lingkungan termanupulasi dengan baik untuk memberikan potensi Gen klon dapat ditampilkan dengan sempurna. Pengendalian gulma dan pemupukan menjadi hal yang krusial dan uji clonal ini. Keseragaman kondisi lingkungan di dalam satu replikasi uji diharuskan semaksimal mungkin terjaga agar semua klon yang diuji mendapat perlakuan silviculture yang sama . Kita menginginkan semua klon dapat menunjukkan potensinya dan akhirnya kita bisa memilih atau menyeleksi klon terbaik dengan sangat fair (adil).

Sumber daya yang dibutuhkan untuk pembangunan clonal test ini hampir sama dengan pembangunan progeny test. Untuk membangun 100 clon dalam clonal test dengan 3 lokasi akan diperlukan dana seperti terlihat pada Tabel di bawah ini:


Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa untuk membangun Clonal test 100 klon dengan 3 lokasi dan dengan Rancangan penelitian menggunakan RCBD , 6 replikasi dan 12 tree plot / replikasi, maka dibutuhkan dana sekitar  1 milyar rupiah atau USD 113.000,- sampai clone diseleksi/dipilih.

Seleksi clon yang dilakukan tentunya berdasarkan karakter phenotype yang diharapkan oleh breeder dan tentunya disesuaikan dengan tujuan pembangunan clonal test. Untuk masing-masing industri perkayuan , syarat-syarat karakteristik yang dibutuhkan juga berbeda misalnya untuk industri pulp and paper biasanya dicari klon-klon yang memiliki syarat :
-          cepat tumbuh
-          produktivitas volume kayu  tinggi
-          pulp yield tinggi (mencakup basic density dan pulp yield)
-          zat esktraktif kayu yang rendah
-          kelurusan batang bagus
-          Percabangan sedikit dan kecil
-          Ketahanan terhadap hama penyakit utama baik

Sementara untuk kayu pertukangan selain cepat tumbuh, produktivitas volume tinggi , kelurusan batang , percabangan sedikit dan kecil, serta ketahanan hama penyakit , biasanya juga melihat aspek silindrisnya batang , pola serat kayu dan sifat-sifat fisika kayu lainnya.

Pemilihan klon terbaik di atas juga harus mempertimbangkan kemudahan clon yang diseleksi untuk dikembangbiakan secara vegetatif dalam skala massal (misalnya dengan stek -  rooted cutting – atau kultur jaringan/ tissue culture) . Syarat-syarat vegetatif propagation yang sangat penting dipertimbangkan adalah rooting ability (persentasi kemampuan berakar) dan kemampuan menumbuhkan trubusan (shoot) dari klon tersebut di Nursery.  Sangatlah penting untuk memilih klon yang sesuai dengan kebutuhan operasional secara massal karena pembangunan clonal forestry tujuannya ada pada skala operasional , bukan pada skala penelitian.

Setelah pemilihan the best clones (klon-klon terbaik) maka langkah selanjutnya adalah bagaimana dengan sesegera mungkin mengembangkan klon-klon itu pada skala operasional (produksi massa). Hal ini membutuhkan strategi yang hampir sama ketika kita menemukan pohon plus pada progeny test dan harus sesegera mungkin menghasilkan material vegetatifnya untuk membangun progeny test.  Untuk ini ada beberapa strategi yang harus dilaksanakan yaitu :

  1. Melakukan penebangan pohon – pohon yang termasuk dalam the best clones di Clonal test kemudian menumbuhkan sprout (trubusannya) , kemudian membuat material stek (rooted cutting) untuk membangun kebun pangkas (hedges orchard) . Hedges orchard yang dibangun dapat menggunakan sistem penanaman di lahan kemudian  melakukan pemangkasan untuk mendapatkan material stek baik macrocutting (stek cabang)  maupun microcutting (stek pucuk yang berukuran kecil) . Atau sistem kebun pangkas di dalam pot dengan sistem pemeliharaan yang lebih intensif.
  2. Melakukan penebangan pohon – pohon yang termasuk dalam the best clones di Clonal test kemudian menumbuhkan sprout (trubusannya) , kemudian membuat material  eksplant di tissue culture (kultur jaringan) . Hasil eksplant tersebut kemudian dapat dijadikan bahan pembangun kebun pangkas (hedges orchard) . Hedges orchard yang dibangun dapat menggunakan sistem penanaman di lahan kemudian  melakukan pemangkasan untuk mendapatkan material stek baik macrocutting (stek cabang)  maupun microcutting (stek pucuk yang berukuran kecil). Atau sistem kebun pangkas di dalam pot dengan sistem pemeliharaan yang lebih intensif.


Kedua strategi tersebut dapat digambarkan pada skema di bawah ini :

Flow Process pembuatan clonal forestry dengan rooted cutting (stek) yang memanfaatkan trubusan (sprout) dari pohon-pohon di dalam clonal test dan membuatnya menjadi kebun pangkas (hedge orchard)

Flow Process pembuatan clonal forestry dengan rooted cutting (stek) yang memanfaatkan trubusan (sprout) dari pohon-pohon di dalam clonal test untuk dikembangkan di dalam Lab . Tissue culture dan plantlet dari Lab Tissue culture dipergunakan membangun kebun pangkas (hedge orchard) dan hasil kebun pangkas dijadikan material rooted cutting. Bisa juga hasil dari Lab . Tissue culture dimanfaatkan langsung sebagai material bibit membangun tanaman operasional

Kedua strategy di atas mempunyai kelemahan dan keuntungan masing-masing dan keputusan untuk menentukan strategi apa yang akan digunakan dalam pembangunan clonal forestry sangat tergantung kepada kondisi lembaga/instansi yang akan mengembangkan clonal forestry tersebut.

Perbedaan  untuk menjalankan Strategi 1 dan 2 di atas dapat dilihat pada Tabel di bawah ini :

Keberadaan Lab. Tissue culture untuk bidang kehutanan saat ini sudah berkembang sangat pesat terutama untuk mendukung program clonal forestry Eucalyptus . Sudah sangat umum perusahaan-perusahaan atau lembaga penelitian kehutanan yang menjalankan clonal forestry memiliki laboratorium Tissue culture sebagai infrastruktur standar yang harus dimiliki karena dengan teknologi kultur jaringan program clonal frestry dapat dijalankan lebih cepat dan secara kuantitatif hasil bibit yang dihasilkan dapat berjumlah lebih besar.  Walaupun tentunya diperlukan dana dan sumber daya yang lebih besar untuk pengadaan bangunan Laboratorium serta pekerja yang menjalankan Laboratorium tersebut.

Pembangunan clonal test, pemilihan clone dan pengembangbiakan clone yang terpilih dan terseleksi menjadi sebuah tahapan penting dalam mencapai pembangunan Clonal forestry Eucalyptus. Tahapan demi tahapan harus dijalankan dengan serius dan konsisten karena proses yang berhenti pada suatu phase dapat mengakibatkan program clonal forestry kembali ke titik nol.

Minggu, 08 Juli 2012

TANTANGAN MENGEMBANGKAN CLONAL FORESTRY EUCALYPTUS (TANTANGAN #3 : SELEKSI POHON PLUS DAN PROPAGASINYA)

Tujuan pembangunan progeny test multilokasi dalam program clonal forestry adalah menemukan the best tree (Pohon plus) dari the best family (family terbaik). Pohon plus kemudian dikembangbangbiakan secara vegetative untuk membangun clonal test dan dari clonal test inilah ditemukan clone yang menjadi bahan material untuk pembangun Clonal forestry secara operasional seperti terlihat pada skema berikut ini .


Seperti dijelaskan sebelumnya untuk menentukan pohon plus dari progeny test multilokasi memerlukan keterampilan untuk analisa data yang berhubungan dengan genetik kuantitatif.  Pemahaman tentang P = G+E ( Phenotype = Genotype + Environment) dan interaksi antara G dan E (GxE) sangat perlu dalam hal ini dan ini biasanya membutuhkan pelatihan-pelatihan dan pendidikan khusus di bidang analisa data genetik test. Dalam analisa data akan ditentukan nilai genotype dan nilai environment yang menentukan nilai phenotype tanaman dan jika progeny test di bangun dalam beberapa lokasi maka sering sekali terjadi interaksi yang rumit. Untuk menghadapi ini seorang breeder (pemulia) akan menentukan pohon-pohon yang menunjukkan nilai P terbaik dan menentukan nilai heritabilitas individu dan family (Individual Heritability dan Family Heritability)  (nilai pewarisan sifat dari suatu induk kepada keturunannya baik secara family maupun individu) dan ini berkaitan dengan nilai variance masing-masing objek. Kemampuan Breeder untuk menghitung nilai-nilai variance component dari genotype dan environment  akan sangat terbantu dengan kemampuan untuk mengoperasikan software komputer statistika yang banyak digunakan dalam Genetic Data Analysis seperti SAS.

Tantangan breeder dalam hal ini akan semakin kompleks jika lokasi – lokasi pengujian Progeny Test menunjukkan interaksi yang tidak berpola atau ternyata berbeda nyata (significant) pada uji statistika. Bisa saja satu family bagus pertumbuhannya pada site (lokasi 1), dan tidak bagus pada lokasi lainnya, atau kondisi dimana satu family bagus pada 2 lokasi uji, sementara uji lainnya kurang baik.  Bisa juga ternyata heritabilitas family di suatu lokasi bernilai  rendah , sementara di lokasi lainnya bernilai tinggi. Diperlukan keterampilan dan pengalaman untuk menyeleksi pohon plus dari masing-masing progeny test.   Penentuan apakah pohon plus yang diseleksi adalah berlaku umum untuk semua lokasi (tapak)  atau specifik lokasinya juga membutuhkan pertimbangan-pertimbangan yang kompleks.  Nilai-nilai Genetic Gain (GG) dapat dilaksanakan dengan menggunakan rumus-rumus yang banyak disampaikan dalam beberapa literatur dan jurnal.

Parameter  pohon plus juga harus disesuaikan dengan kebutuhan breeding dan tujuan lembaga tersebut mengadakan pemuliaan pohon. Secara umum pohon plus yang dipilih untuk tujuan Industri Pulp adalah :
-          Tumbuh cepat dan tingkat pertumbuhan tinggi
-          Bercabang kecil dan sedikit
-          Berbatang lurus dan silindris
-          Kulit kayu tipis
-          Sehat
-          Memiliki Wood density yang sesuai untuk pulp (biasanya > 450 kg/m3 dan < 800 kg/m3)

Setelah diputuskan pohon-pohon plus dari masing-masing lokasi progeny test dan sudah diputuskan apakah pohon plus itu bersifat general untuk seluruh lokasi, atau hanya spesifik untuk satu lokasi (tapak), maka  langkah selanjutnya adalah memperbanyak pohon plus tersebut untuk mendapatkan material vegetative dalam rangka membangun Clonal test.

Tahapan pengembangbiakan pohon plus menjadi Clonal test  membutuhkan sumberdaya yang banyak dan waktu yang panjang. Problem dalam tahapan ini adalah  bagaimana memperbanyak satu pohon plus berumur tua menjadi ratusan bibit vegetatif yang seumur dan seragam .

Teknik Perbanyakan Vegetatif Pohon Plus

Perbanyakan pohon plus menjadi material-material tanaman sebagai bahan pembangun Clonal test merupakan proses pemuliaan yang paling sering menjadi masalah.  Untuk membangun clonal test diperlukan material tanaman yang seragam dari semua pohon plus. Seragam artinya sama dalam ukuran, umur bibit, dan jumlah yang tersedia . Untuk membangun clonal test diperlukan jumlah bibit yang mencukupi sesuai dengan desain percobaan clonal test yang diharapkan. Umumnya desain percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok (Randomized Completely Block Design-RCBD) dengan jumlah replikasi 6 ulangan dan tree plot (tanaman uji) per replikasi paling tidak 12 pohon (dalam bentuk plot persegi 3 x 4 tanaman).  Untuk itu paling tidak diperlukan 12 tanaman x 6 replikasi = 72 ramet (bibit) dari masing-masing pohon plus untuk membangun 1 lokasi Clonal Test.  Untuk mendapatkan 72 bibit yang seragam umur dan ukurannya dari satu pohon plus adalah kegiatan yang membutuhkan teknik perkembangbiakan vegetatif yang khusus dan spesifik padahal kita akan membangun clonal test multilokasi sesuai dengan klassifikasi lahan (site) yang ada seperti halnya membangun Progeny Test Multilokasi. Metode yang paling umum dilaksanakan adalah dengan cara mengambil sprout (trubusan) dari pohon plus dan mengembangkannya dengan teknik stek (rooted cutting). Permasalahannya adalah bagaimana mendapatkan sprout (trubusan) dari pohon plus?  Ada 2 langkah yang ditempuh  yaitu penebangan pohon plus dengan resiko kita kehilangan pohon plus (destructive) dan teknik lain adalah dengan melukai batang pohon plus (girdling) untuk menumbuhkan sprout (turbusan) dari batang.


Foto 1 : Sprout Eucalyptus setelah penebangan pohon (sumber : http://komaza.org/blog/?p=945)

 
Foto 2: Sprout (trubusan) Eucalyptus tumbuh setelah penebangan pohon (sumber foto: http://www.millstreamgardens.co.nz/blog



Foto 3: Sprout (trubusan) Eucalyptus dapat dipanen dan dijadikan material stek (rooted cutting)  seperti di Afrika Selatan ( sumber foto : http://www.forestry.co.za)

Foto 4: Pembuatan material stek (rooted cutting) memerlukan infrastruktur seperti  green house yang dilengkapi dengan pengatur kelembaban (misting) , suhu dan cahaya agar stek dapat tumbuh (sumber foto: http://www.forestryimages.org)

Foto 5: Girdling pohon untuk mendapatkan trubusan biasanya dilakukan dengan mengupas kulit kayu dan menunggu trubusan muncul dari bagian bawah kupasan (Sumber foto : http://www.wikipedia.org/)

Foto 6: Harus hati-hati melakukan girdling pohon plus, karena kemungkinan jika pengupasan kulit terlalu besar dan melingkari batang maka pohon plus akan mati (sumber foto : http://www.ca.uky.edu)

Foto 7: Bagaimanapun sulitnya trubusan (sprout) harus tetap diusahakan tumbuh dari pohon plus karena tanpa trubusan ini maka program clonal forestry tidak akan berlangsung (sumber foto : www.git-forestry.com)

Pekerjaan penebangan pohon plus dan atau peng-girdling-an pohon plus untuk mendapatkan sprout (trubusan) akan memerlukan sumber daya dan dana yang besar , padahal hanya untuk mendapatkan bibit untuk pembangun Clonal test. Beberapa sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk kegiatan ini adalah :

  1. Sarana Transportasi Khusus

Jika lokasi Progeny Test dimana plus tree (pohon plus) berada cukup jauh dari Nursery dan terpencar maka sarana tranportasi khusus untuk pemeliharaan pohon plus sangat penting disediakan.  Pohon plus yang sudah ditebang dan digirdling perlu diperiksa dan diamati secara rutin apakah menumbuhkan trubusan atau tidak. Perlu juga dilakukan pengendalian gulma disekitar pohon dan juga pemupukan . Pada musim kemarau, perlu dilakukan penyiraman pohon agar trubusan yang tumbuh tidak kering dan mati. Pengendalian Hama Penyakit juga perlu dilaksanakan, terutama untuk batang pohon plus yang ditebang, karena terjadi pelukaan yang cukup besar maka kemungkinan terserang patogen akan semakin berpotensi besar.  Satu per satu pohon plus yang ditebang harus diperiksa secara rutin oleh pekerja/staff yang memahami tujuan penebangan /girdling pohon plus tersebut. Kehilangan material sprout (trubusan) menjadi kehilangan potensi mendapatkan material vegetatif pohon plus yang berarti juga kehilangan kesempatan memperbanyak pohon plus menjadi clon.  Hal inilah yang sering menjadi penyebab pohon plus tidak ditebang untuk mendapatkan trubusan tetapi cukup dengan girdling.  Walaupun dengan resiko jumlah trubusan yang diperoleh dengan metode girdling  akan lebih sedikit dibanding dengan penebangan.

  1. Sumber daya manusia
Untuk mengerjakan penebangan pohon atau peng-girdling-an pohon plus yang terpencar , pemeliharaannya, pengamatannya, pemanenan sprout-nya dan pembuatan material vegetatif di Nursery memerlukan sumber daya manusia yang memadai.  Harus ada staff yang khusus memahami manfaat dan fungsi sprout (trubusan) dan bagaimana menanganinya agar mampu menjadi material vegetatif di Nursery.  Paling tidak harus ada staff khusus di lapangan yang bertugas mengelola pohon plus dan sprout-nya, serta 1 orang staff (supervisor) untuk menangani perbanyakan sprout menjadi rooted cutting di Nursery. Tentunya mereka berdua harus dibantu tenaga kerja teknis yang mencukupi.

  1. Infrastruktur Perbanyakan Vegetatif

Seperti dijelaskan di atas, trubusan pohon plus harus ditangani untuk menjadi bibit vegetatif sebagai material pembangun Clonal Test.  Untuk ini diperlukan infrastruktur green house atau rooting house  yang dilengkapi dengan pengatur kelembaban (sprinkler- misting) , pengatur temperatur, dan pengatur intensitas cahaya.  Tanpa infrastruktur ini maka peluang untuk membuat bibit vegetatif dari trubusan pohon plus akan sulit dilaksanakan.  Selain infrastruktur yang memadai harus juga dikuasai teknik pembuatan rooted cutting dan menajemennya di Nursery.

Pembuatan bibit vegetatif dari trubusan pohon plus kemungkinan akan dilaksanakan berulang kali dengan cara mengumpulkan sprout (trubusan) di lapangan karena untuk mendapat bibit vegetatif yang seragam dari pohon tua juga terkadang sangat sulit .  Problem yang sering muncul adalah :

  • Pohon plus yang ditebang / di girdling tidak menumbuhkan trubusan atau trubusannya sangat sedikit atau terserang hama penyakit
  • Pohon plus yang ditebang / di girdling menumbuhkan trubusan tetapi trubusan sulit untuk diakarkan di nursery
  • Pohon plus yang ditebang/ di girdling mampu menumbuhkan trubusan dan diakarkan, tetapi jaringannya tetap tua (mature) atau sering diistilahkan dengan ”aging effect”, dimana bibit yang tumbuh tampak seperti pohon tua (tidak juvenil).

Beberapa pengalaman dalam mengelola Pohon Plus E. pellita dan E. urophylla berumur 4-5 tahun agar dapat menghasilkan trubusan untuk menghasilkan bibit vegetatif pembangun clonal test dapat dijelaskan sebagai beirkut :

  1.         Dari seluruh pohon plus yang ditebang, diperoleh hanya 80-90% yang mampu menumbuhkan trubusan . Dari 80-90% pohon plus yang menumbuhkan trubusan itu hanya 60-70% yang mampu menumbuhkan akar. Harus banyak penelitian bagaimana menumbuhkan akar trubusan tanaman tua.
  2.         Dari seluruh pohon plus yang ditebang, rata-rata jumlah trubusan yang tumbuh pada bulan pertama setelah penebangan adalah 15-20 trubusan. Setelah dipanen , trubusan yang tumbuh semakin sedikit.  Apabila dilakukan pemeliharaan rutin trubusan tetap tumbuh dengan baik.
  3.         Hama penyakit yang paling sering menyerang sprout pohon plus yang ditebang dan di-girdling adalah hama ulat pemakan daun dan penggulung serta pengisap pucuk . Perlu usaha pengendalian hama ini dengan intensif agar sprout (trubusan) yang dihasilkan dapat berkualitas. Untuk menghindari serangan penyakit bercak daun, dapat dilakukan dengan memberi mulsa di permukaan tanah sehingga percikan air hujan pada tanah tidak mengenai daun-daun trubusan. 
  4.         Pemupukan N dapat meningkatkan produktivitas trubusan tetapi pemupukan N yang berlebihan membuat kualitas trubusan kurang baik .

Begitu banyaknya hal yang mempengaruhi perbanyakan vegetatif pohon plus yang sudah terpilih dalam progeny test. Sangat banyak hal yang belum diketahui dan perlu diteliti agar program clonal forestry dapat dijalankan. Berdasarkan pengalaman untuk mengembangkan bibit dari pohon plus sebanyak 100 pohon saja diperlukan sumber dana mencapai mendekati Rp. 500.000.000.000 ,- agar dapat menghasilkan bibit +/- 250 bibit per pohon plus seperti terlihat dalam tabel di bawah ini.


Bagaimanapun biaya pada tabel di atas harus dikeluarkan jika program clonal forestry Eucalyptus akan dijalankan. Tanpa pengembangan vegetatif pohon plus maka Clonal test hanya sekedar harapan di atas kertas dan bayangan keuntungan produktivitas tegakan HTI dari clonal forestry tidak akan tercapai

Minggu, 01 Juli 2012

TANTANGAN MENGEMBANGKAN CLONAL FORESTRY EUCALYPTUS ( TANTANGAN #1 : MATERIAL GENETIK )


Tegakan Clonal Euclyptus hybrid di Colombia
Tak dapat dipungkiri, clonal forestry Eucalyptus spp. sudah menjadi benchmark pembangunan Hutan Tanaman di berbagai negara terutama negara-negara di Amerika Latin , Asia , Australia , Afrika bahkan beberapa negara di Eropa.  Ini karena sudah jelas, clonal forestry Eucalyptus telah menunjukkan produktivitasnya yang sangat tinggi . Di berbagai negara  bahkan clonal forestry Eucalyptus spp.  mampu mencapai MAI 50-60 m3/ha/tahun atau dapat menghasilkan MAI ADT (Air Dry Ton)  Pulp > 10 ton/ha.  Brazil sebagai negara yang dinyatakan sebagai “kiblat” clonal forestry bahkan menyebutkan bahwa di beberapa plot penelitian ada clone yang menghasilkan MAI > 70 m3/ha/tahun atau MAI ADT > 12 ton/ha.

Walaupun demikian, tentunya pencapaian produktivitas kayu yang dihasilkan dari clonal forestry tersebut tidak begitu saja diperoleh. Sangat banyak usaha yang dilakukan, dan tentunya membutuhkan modal yang besar dan waktu yang tidak singkat. Selain itu tentunya konsistensi melakukan pemuliaan pohon (Tree improvement)  tetap menjadi modal utama penemuan klon-klon unggulan yang memiliki sifat-sifat genetik yang diharapkan.

Berbagai tantangan dalam pengembangan clonal forestry akan coba dijelaskan dalam beberapa seri tulisan di bawah ini.

TANTANGAN #1 : MATERIAL GENETIK

Tidak ada clone unggulan tanpa tersedianya material genetik yang cukup untuk diseleksi . Material genetik yang dimaksud adalah beragamnya material genetik yang diuji dalam uji keturunan (Progeny Test) sebagai lokasi pemilihan plus tree (Pohon plus) yang menjadi bakal clone.  Tersedianya genetic base yang luas akan memberikan kesempatan kepada pemulia pohon (tree breeder) untuk mendapatkan material-material yang lebih atau plus.

Brazil mengembangkan clonal Eucalyptus-nya dengan mendatangkan material genetik E. urophylla (yang tumbuh alami di Indonesia) dan E. grandis yang tumbuh alami di Australia. Program pemuliaan yang dimulai sejak tahun 1960-an terhadap kedua jenis Eucalyptus itu telah memberikan hasil yang fantastis sampai sekarang dengan kegiatan hybridisasi (perkawinan silang) antara E.urophylla x E.grandis dan menghasilkan E.urograndis yang menjadi andalan Brazil dan negara-negara Amerika Latin lainnya seperti Mexico, Uruguay, Colombia, Venezuela, Argentina, Chile, dsb. Ratusan benih individu pohon E.urophylla dan E.grandis dikembangkan untuk mendapatkan family-family (seedlot) yang tumbuh cepat dan memiliki sifat kayu yang sesuai dengan industri yang dikembangkan.  Dalam beberapa literatur disebutkan untuk melaksanakan breeding suatu species, paling tidak dibutuhkan 300 individu pohon dari hutan alam (berupa benih) dan tentunya dari berbagai provenance. Benih dari 300 pohon (individu) tersebut dapat ditanam dalam berbagai lokasi atau multisite dan dapat dijalankan dalam beberapa tahun sesuai dengan kemampuan sumber daya yang ada.

Program pembangunan Genetic base (populasi dasar) sebanyak 300 individu dari hutan alam tersebut dapat disusun dalam strategy sebagai berikut : 

Skema singkat pembangunan Base Population Eucalyptus untuk mengembangkan Clonal forestry
 Dari skema di atas dapat diketahui bahwa pembangunan Genetic Base (Populasi Dasar) untuk kegiatan pemuliaan membutuhkan sumber daya yang terus menerus sejak tahun pertama sampai tahun ke 6 dan tahun-tahun selanjutnya. 

Perkiraan sumber daya untuk mengerjakan pekerjaan di dalam skema di atas untuk 1 set penelitian Progeny Test (50 family) dapat digambarkan dalam Tabel di bawah ini :

Tabel Perkiraan Biaya Pembangunan Base Population 50 family

Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa untuk membangun genetic base (populasi dasar) sebanyak 50 family dibutuhkan dana sekitar Rp.630 .500.000,- atau jika di kurskan dengan 1 USD = Rp. 9500, maka akan dibutuhkan dana kurang lebih USD 66.000 .  Atau jika akan membangun genetic base sebanyak 300 family akan dibutuhkan sekitar Rp. 3.7 milyar atau sekitar USD 379.000,- . Tentunya ini dana yang cukup besar bagi lembaga yang akan melakukan clonal forestry Eucalyptus.

Hal di atas merupakan tantangan dalam membangun genetic base jika kita akan melaksanakan Clonal forestry. Ketersediaan genetic base tidak dapat diabaikan, karena dari genetic base inilah peluang – peluang untuk mendapatkan clone unggulan dapat diperoleh.  Masalah lainnya adalah walaupun dana dan sumber daya manusia tersedia , belum tentu plus tree yang dihasilkan sesuai dengan keinginan lembaga yang menjalankannya.  Plus tree bisa saja tidak diperoleh dalam satu rangkaian progeny test yang dijalankan karena plus tree sangat dipengaruhi oleh interaksi Genetik benih yang ditanam dengan lingkungan dimana benih itu di tanam dan hal ini sangat bersifat alami dan sulit dikendalikan manusia .
. 
Tantangan lainnya adalah belum tentu kita mendapatkan material genetik di hutan alam yang direncanakan sebelumnya karena keberadaan material genetik di hutan alam sangat tergantung kepada tingkat konservasi populasi pohon yang kita rencanakan untuk diclonalkan.  Populasi pohon E. urophylla, E.pellita dan E.deglupta di berbagai provenance sudah dinyatakan dalam kondisi sangat berbahaya karena berbagai tekanan yang terjadi seperti penebangan liar (illegal loging), perubahan fungsi hutan menjadi berbagai keperluan seperti perladangan, perumahan, perkebunan, infrastruktur, dsb. Selain itu kondisi tekanan alam seperti letusan gunung berapi juga menjadi salah satu resiko yang dapat menghilangkan genetik material di hutan alam seperti halnya di Gunung Egon dan  Gunung Lewotobi di Pulau Flores yang sering sekali meletus , padahal kedua gunung itu merupakan tempat tumbuh alami E.urophylla .  Tentunya letusan gunung ini akan mempengaruhi keberadaan populasi E.urophylla di wilayah tersebut.

Bagaimanapun tantangan untuk mendapatkan material genetik untuk pembangunan Genetic base sebagai langkah awal mengembangkan clonal forestry semakin kompleks misalnya dengan kompetensi sumberdaya manusia pelaksana kegiatan Breeding. Kompetensi yang dimaksud adalah kemampuan menjalankan program breeding yang baik, hasrat/keinginan meneliti dalam jangka lama , keterampilan membangun plot-plot genetik test (seperti Progeny Test) serta analisa datanya  dan tentunya  keterampilan silviculture teknis. Sekarang ini semakin sulit untuk mendapatkan sarjana kehutanan atau pertanian yang menyukai pekerjaan – pekerjaan lapangan dan siap bekerja lama meneliti tanaman kehutanan yang berumur panjang, selain itu walaupun siap bekerja dibidang pemuliaan maka diperlukan semangat dan kerja keras untuk belajar tentang berbagai ilmu secara terus menerus karena bidang pemuliaan pohon terus berkembang.  

Selain tantangan yang sudah disebutkan di atas tantangan lain adalah komitmen lembaga/perusahaan untuk menjalankan clonal forestry dengan sebaik-baiknya. Banyak pemilik modal yang kurang memahami bahwa menjalankan clonal forestry itu dibutuhkan keterampilan – keterampilan khusus, bukan sekedar memilih pohon , mengembangkan secara vegetatif dan panen clonal . Pemahaman tentang flow proses pemilihan clonal , pembangunan clonal forestry serta  konsekuensi-konsekuensinya harus dipelajari dan dipahami pemilik modal dan tenaga administratif yang terkait agar diperoleh dukungan yang cukup , karena dengan dukungan yang tidak maksimal program clonal forestry bisa saja sekedar wacana atau menemukan kegagalan ketika dijalankan.

Senin, 18 Juni 2012

DESKRIPSI UMUM EUCALYPTUS spp. DAN PENGEMBANGANNYA MENJADI SPECIES TANAMAN POKOK DI HTI

Genus Eucalyptus di dunia terdiri dari lebih 700 spesies dan 138 varietas,  dimana di luar spesies dan varietas yang sudah diketahui masih mungkin ditemukan  spesies-spesies dan varietas baru yang termasuk ke dalam genus Eucalyptus (Blakley, 1955; Johnston and Marryatt 1965; Penford and Willis, 1961 dalam Krugman and Whitesell (?); Rockwood et al 2008, Flynn (?); www.wikipedia.org, Heathcore, 2002, White, 1993 ). Spesies yang termasuk kedalam genus Eucalyptus memiliki bentuk pohon dengan batang utama yang tinggi, walaupun demikian beberapa spesies dalam genus ini ada yang berbentuk semak berkayu (Jacobs, 1979 dalam Krugman and Whitesell,?). Genus Eucalyptus secara umum tumbuh alami di Australia, namun beberapa spesies tumbuh alami di Philipina, Papua New Guinea, dan Pulau Timor di Indonesia (Hall et al dalam Krugman and Whitesell, 1963). Genus Eucalyptus merupakan salah satu genus yang banyak dibudidayakan dalam bentuk hutan tanaman di berbagai belahan dunia, pohonnya dapat digunakan sebagai ornamen, sebagai pohon peneduh, konservasi tanah, kayu pertukangan dan bubur kertas atau pulp (Chippendale et al dalam Krugman and Whitesell (?) ; Heathcore, 2002 ; http://www.anbg.gov.au; Turnbull, 1999) . Lebih jelasnya http://www.bracelpa.org/ mengatakan , Eucalyptus dapat digunakan untuk berbagai keperluan baik untuk kayu serat untuk berbagai industri kertas, kayu pertukangan, furniture, tiang, papan, plywood, sumber makanan seperti madu, papan partikel, minyak atsiri, dsb.

Menurut Evans (1992), Eucalyptus spp menduduki 37.5 % dari seluruh areal hutan tanaman di daerah tropis pada tahun 1980 sedangkan menurut Ball (1993), Brown (2000), Flynn (?) dan Varmola dan Carle (2002), Eucalyptus sebagai salah satu hardwood species penting sebagai penyuplai kayu dunia sampai tahun 1995 terjadi penambahan luas hutan tanaman dan  luas hutan tanaman Eucalyptus mencapai 17.7% dari total luas hutan tanaman di dunia atau  9.9 juta hektar dari luas hutan tanaman di dunia pada tahun yang sama seluas 56.3 juta hektar seperti terlihat pada grafik di bawah ini :

Sementara FAO (2006, 2007) melaporkan bahwa perkembangan Hutan tanaman di dunia sampai tahun 2005 sudah mencapai 181 juta hektar dan 10 negara yang memiliki luas hutan tanaman terluas adalah China, India, Amerika Serikat, Rusia, Jepang, Swedia, Polandia, Sudan, Brazil dan Finlandia . Sementara jenis – jenis yang dikembangkan sebagai tanaman pokok terdiri dari 2 kelompok yaitu hardwood dan softwood. Untuk kelompok hardwood didominasi oleh Eucalyptus spp. , Acacia spp. dan Tectona grandis.

Sementara itu Rockwood et al (2008) melaporkan , Eucalyptus sudah dikembangkan menjadi salah satu species penting dalam hutan tanaman industri hampir di 90 negara  dan telah mencapai luasan 18 juta hektar baik itu di daerah tropis maupun sub tropis di benua Amerika Selatan, Asia, Afrika dan Australia ataupun di daerah temperate seperti di Amerika Utara, Eropa, Amerika Selatan dan Australia Selatan dan menurut Turnbull (1999), pengembangan Eucalyptus spp. sudah dimulai pada abad ke 18 dengan diperkenalkannya Eucalyptus dari Australia di benua Eropa oleh Charles Louis L’ Heritier de Brutelle, seorang botanis Perancis. Dari sejak itu, pengembangan Eucalyptus terus meluas ke berbagai negara .  Menurut White (1993), pengembangan Eucalyptus ke India dimulai tahun 1790 , sedangkan di Nepal pada tahun 1890 dan ke Thailand pada tahun 1905. Eucalyptus diperkenalkan ke Asia Tenggara sekitar tahun 1770 oleh seorang botanis bernama Sir Joseph Bank dalam ekspedisi James Cook (http://www.wikipedia.org/).  Sedangkan menurut Munishi (2007), pengembangan Eucalyptus secara komersil sudah dimulai tahun 1860 di Victoria Australia terutama untuk pengembangan bahan obat-obatan.

Menurut Carle and Holmgren (2008), apabila dikelompokkan berdasarkan wilayah, maka sampai tahun 2005 di dunia telah ada 13.8 juta hektar Eucalyptus dan  wilayah Asia memiliki luas hutan tanaman Eucalyptus terluas yaitu 7.6 juta hektar, kemudian disusul wilayah Amerika Selatan seluas 4.5 juta hektar dan wilayah Afrika seluas 1.2 juta hektar dan sisanya ada di wilayah Oceania seluas 0.5 juta hektar.  Diperkirakan pada tahun 2030 luas Eucalyptus di Asia akan mencapai 10.6 juta hektar. Asia Pacific akan menjadi daerah yang penting dalam memproduksi kayu Eucalyptus spp. melalui hutan tanaman (Ball, 1993)

Menurut Rockwood et al (2008), pada tahun 2000, India memiliki luas tanaman Eucalyptus terbesar di dunia yaitu mencapai 8 juta hektar, kemudian disusul negara Brazil dengan luas 3 juta hektar dengan produktivitas rata-rata 45-60 m3/ha/tahun.  FAO ( 2005)  melaporkan bahwa pengembangan Eucalyptus sampai tahun 2005 hampir mencapai 13 juta hektar di negara utama termasuk Congo , Indonesia, China, Malaysia, Thailand, Prancis, Portugal, New Zealand dan Amerika Serikat. Bahkan negara China dilaporkan menanam Eucalyptus seluas  +/- 3.500-43.000 Ha/tahun dan perkembangan hutan tanaman di China diperkirakan mencapai   325.000 –   1 .100.000 Ha dalam 20 tahun belakangan ini dan didominasi oleh species Eucalyptus. Sementara Barr and Cossalter (2004) mengatakan, pengembangan Eucalyptus species di China didominasi oleh species E.urophylla, E.teriticornis, dan beberapa hybrid seperti E.urophylla X E.grandis, E.gradis X E.urophylla dan E.teriticornis X E.urophylla terutama di 3 provinsi yaitu Hainan, Guangdong dan Guangxi dan diperkirakan mencapai penanaman 65.000 Ha/tahun dengan rata-rata MAI berkisar antara 10-20 m3/ha/tahun tergantung kepada lokasi dan tingkat manajemen hutan tanaman. Minsheng (2003) mengatakan, China awalnya mengembangkan 2 jenis Eucalyptus yaitu E.citodora dan E.exserta pada tahun 1960-1980, tetapi kemudian sejak tahun 1980  melakukan berbagai penelitian species  Eucalyptus lainnya termasuk pembuatan hybrid untuk menemukan klon-klon yang sesuai dengan iklim dan tanah di China. Berbagai species yang diuji adalah E.grandis, E.urophylla, E.camaldulensis, E.wetarensis, E.pellita, E.dunii, E.globulus, E.simithii, E.cloeziana, E.maidenii, E.salina dan E.benthamii.  Disebutkan pula selain menguji species dan provenance, juga dilakukan kegiatan breeding untuk menemukan klon-klon unggulan dan dari klon yang telah terseleksi diperoleh potensi pertumbuhan antara 40-50 m3/ha/tahun, walaupun pertumbuhan Eucalyptus di komersial plantation di China mempunyai range yang luas yaitu antara 10-70 m3/ha/tahun sedangkan Lal (2003) menyebutkan, clone Eucalyptus di India rata-rata menghasilkan MAI 20-25m3/ha/tahun pada skala komersial, walaupun dibeberapa daerah dapat menghasilkan MAI 50 m3/ha/tahun.

Kebanyakan jenis Eucalyptus hybrid yang dikembangkan saat ini adalah hasil generasi pertama ( F1) dan umumnya berasal dari seksi Maidenaria (misalnya E.globulus dan E.nitens) , Exsertaria (misalnya E.camaldulensis dan E.teriticornis), dan Transversaria ( yang telah dirobah menjadi Latoangulatae, Broker  dalam Payn, 2008) misalnya E.pellita, E.grandis dan E.urophylla yang merupakan sub genus dari Symphyomyrtus (Griffin ; Eldridge dalam Payn, 2008). Luas penanaman Eucalyptus sp. di dunia dalam bentuk hutan tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

 Luas dan struktur umur hutan tanaman  Eucalyptus spp. diberbagai negara  tahun 1995  (FAO , 2006 dalam Rockwood et al 2008)


Sementara menurut James dan Lungo (2005), beberapa negara lain yang juga mengembangkan Eucalyptus spp. sebagai tanaman utama di hutan tanamannya seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

Dilaporkan juga oleh Rockwood et al (2008)  bahwa Eucalyptus spp. yang banyak ditanam dalam hutan tanaman juga sudah mencakup jenis-jenis hybrid (persilangan) dan 4 species yang sering dikawinsilangkan untuk memperoleh “material genetik baru-hybrid” adalah jenis E. grandis, E.urophylla, E.camaldulensis dan E.globulus dan hampir mencapai 80% dari luasan hutan tanaman Eucayptus yang ada di dunia.  Selanjutnya menurut James dan Lungo (2005) dan Varmola dan Carle (2002) , bahwa dari puluhan jenis yang dikembangkan sebagai tanaman pokok di hutan tanaman di berbagai negara maka ada 16 species yang mendominasi yaitu Pinus spp., Havea brasilensis, Eucalyptus spp., Populus spp., Tectona grandis, Pinus radiata, Eucalyptus grandis, Pinus merkusii, Pinus taeda, Acacia nilotica, Eucalyptus globulus,  Acacia auriculiformis, Eucalyptus saligna, P.elliotii, Pinus caribaea var. Hondurensis dan Gmelina arborea.  Dari daftar itu diketahui species Eucalyptus yang dikembangkan berupa Eucalyptus spp., E.grandis, E.globulus dan  E.saligna. Tentunya pengelompokkan ke dalam species Eucalyptus spp. didasarkan kepada banyaknya species Eucalyptus yang dikembangkan dan kemungkinan terjadinya hybrid antar species. Apabila dikelompokkan menjadi 2 grup besar yaitu jenis Conifer dan Non-Conifer, maka di kelompok Non-Conifer species Eucalyptus spp. menjadi yang paling dominan.
Menurut Moore dan Jopson (2008), penggunaan Eucalyptus sebagai bahan baku pulp and paper sangat besar jumlahnya seiring dengan permintaaan untuk pembuatan Bleach Eucalyptus Kraft Pulp (BEKP) yang mencapai 2 juta ton pada tahun 1980 menjadi 10 juta ton pada tahun 2005. Eucalyptus pulp mempunyai kontribusi 50% untuk produksi pulp di dunia dan lebih dari 20% produksi chemical pulp. Bagaimanapun Amerika Selatan masih menjadi produsen Eucalyptus pulp terbesar di dunia dengan 57% dari seluruh produksi pulp Eucalyptus dunia dan Brazil menduduki posisi tertinggi di benua ini, kemudian Asia menduduki posisi kedua dengan 13% dan disusul Afrika 12% sedangkan sisanya adalah Oceania dan Eropa masing-masing 10% dan 8%.

Selain digunakan sebagai bahan baku pulp, Eucalyptus juga digunakan untuk berbagai keperluan seperti kayu pertukangan (solid wood), veneer, kayu bakar (kayu energi) dan kebutuhan lainnya untuk  berbagai industri kosmetika, obat-obatan dan industri kimia lainnya.

Berikut disajikan informasi mengenai masing-masing spesies Eucalyptus yang umum dikembangkan sebagai tanaman pokok Hutan Tanaman (Forest plantation)  di berbagai belahan dunia terutama di daerah tropis:

1. Eucalyptus urophylla

a)  Nama Botani. Eucalyptus urophylla S.T. Blake. Nama urophylla berasal dari bahasa latin ura = ekor dan phyllon = daun. Species ini memiliki bentuk daun yang mirip dengan Eucalyptus decaisneana dan Eucalyptus alba, bahkan beberapa orang sering keliru untuk menentukan E. urophylla karena mirip dengan kedua spesies diatas. Sinonim : Eucalyptus alba Reinw. ex Blume Eucalyptus decaisneana Blume (http://www.worldagroforestry.org/)
b)   Family. Eucalyptus urophylla termasuk kedalam family Myrtaceae (jambu-jambuan)
c)   Nama umum. Timor mountain gum (English), Ampupu dan Palavao preto (Indonesia).
d)   Gambaran Botani (Botanical Features). Pada tempat penyebaran alaminya di hutan alam, spesies ini memiliki tinggi pohon hingga 24-45 m dan memiliki diameter hingga lebih dari 1 m, dengan batangnya yang bundar dan lurus yang mencapai setengah hingga dua pertiga dari seluruh tinggi pohon. Spesies E.urophylla juga pernah ditemukan memiliki tinggi hingga 55 m dengan diameter lebih dari 2 m. Pada kondisi lingkungan yang ekstrim spesies ini bisa sangat berbeda dengan pertumbuhannya di lingkungan yang baik, di lingkungan yang ekstrim spesies ini bisa hanya berupa semak berkayu dengan batang yang berbonggol dan memiliki tinggi hanya beberapa meter saja. Spesies ini dikenal juga memiliki karakteristik kulit batang yang dipengaruhi oleh kelembaban udara dan ketinggian tempat tumbuh, pohon yang tumbuh di bawah ketinggian 1000 m d.p.l. yang ditemukan di pulau Alor dan Flores memiliki kulit yang relatif halus. Sementara pohon yang hidup pada tapak dengan ketinggian 1000 m d.p.l. - 2000 m d.p.l. seperti yang terdapat di Pulau Timor dengan kondisi yang lembab, kulit pohonnya biasanya bergaris-garis dangkal. Di tempat tumbuh aslinya, spesies ini biasanya ditemukan berasosiasi dengan E. alba dan ditengarai terjadi perkawinan silang antar keduanya, hasilnya adalah individu pohon yang memiliki karakter batang antara E.urophylla dan E.alba. Proses pembuahan dicirikan dengan mulai keluarnya bunga yang berbentuk karangan bunga (inflorence), berwarna putih. Musim bunga berlangsung antara bulan Januari hingga Maret, sedangkan buah masak dan siap dipanen pada bulan Juni hingga September. Pembuahan terjadi setiap tahun secara periodik. (Atlas Benih Tanaman Hutan Indonesia, Balai Teknologi Perbenihan, Departemen Kehutanan R.I)
e)  Penyebaran Tempat Tumbuh. Sebaran alami spesies E.urophylla berada di Indonesia. Sebaran utamanya ada di pulau Timor, Alor dan Wetar, tetapi beberapa populasi kecil spesies ini juga ditemukan di Pulau Flores, Adonara, Lomblen dan Pantar. Lokasi sebaran alaminya memanjang dalam jarak sekitar 500 km antara 122° Bujur Timur hingga 127° Bujur Timur , 7°30’-10° Lintang Selatan, ketinggian 90 – 2200 m d.p.l. Luasnya rentang ketinggian tempat tumbuh E.urophylla menjadikannya sebagai spesies dari genus Eucalyptus yang memiliki rentang ketinggian tempat tumbuh yang paling besar.
Sebagai tanaman Exotic dikembangkan di berbagai negara seperti Australia, Brazil, Kamerun, China, Kongo, Pantai Gading, French Guiana, Gabon, Madagaskar, Malaysia, Papua New Guinea, Vietnam, dsb. (http://www.worldagroforestry.org/ ; Payn, 2008; Vozzo (?) )
f)   Iklim. E.urophylla tersebar dari mulai daerah beriklim panas, humid hingga sub-humid. Tumbuh pada areal dengan ketinggian 400 m d.p.l. dengan suhu rata-rata tahunan 25°C hingga ketinggian 1900 m d.p.l. dengan suhu rata-rata tahunan 15°C. Di Pulau Timor banyak tegakan E.urophylla tumbuh pada ketinggian di atas 1000 m d.p.l. dimana kondisi lingkungannya sering berkabut, dengan curah hujan 1300-2200 mm/tahun dan musim kering dalam rentang 3-4 bulan. Walaupun demikian di pulau lain di tempat sebaran alaminya, spesies ini tumbuh juga pada daerah kering dengan curah hujan 800-1500 mm dengan musim kering dalam rentang 5-8 bulan.
g)  Fisiografis dan Tanah. E.urophylla secara umum ditemukan menjadi spesies dominan pada hutan sekunder di pegunungan. Tumbuh pada lereng-lereng gunung dan lembah. Tumbuh baik pada tanah yang dalam, lembab/basah, berdrainase baik dengan pH yang yang mendekati netral yang terbentuk dari letusan gunung berapi atau perubahan bentuk dari batuan.
h)  Type vegetasi. E.urophylla merupakan spesies dominan pada hutan pegunungan sekunder, di tempat penyebaran alaminya spesies ini berasosiasi dengan Casuarina junghuhniana, Palaquium, Planchonella, Pygeum, dan Podocarpus. Pada tempat tumbuh dengan ketinggian di bawah 1500 m d.p.l. distribusi tegakan  E.urophylla membentuk pola mozaik dan berasosiasi dengan E.alba.

i)    Manfaat/penggunaan E.urophylla. Kayu dari spesies ini, terutama yang berasal dari tanaman muda sangat baik untuk digunakan menjadi kayu bakar dan arang. Selain itu spesies ini juga memiliki kayu yang dapat digunakan untuk pertukangan dan bahan baku pulp karena memiliki wood properties yang sangat baik. Berat jenis kayu dalam kondisi basah sesaat setelah penebangan yang berasal dari tegakan di hutan alam sekitar 960 kg/m3. Walaupun demikian, E.urophylla memiliki nilai basic density yang paling rendah jika dibandingkan dengan spesis dari genus Eucalyptus yang lain, pada kondisi kering tanur adalah 540-570 kg/m3 (Forestry Compendium, CAB International dalam  http://www.agroforestry.org/ )
Tekstur kayunya sedikit berserabut, tetapi mudah untuk dikerjakan (diolah), dan menghasilkan kayu hasil pengolahan yang baik untuk dijadikan lantai (flooring), papan, dan untuk kayu kontruksi. Di Brazil kayu dari spesies ini sangat baik untuk digunakan sebagai bahan baku pulp, karena memiliki wood properties yang sangat baik. Serat relatif pendek dengan panjang sekitar 1.0 mm. Kayunya sangat bagus sebagai bahan baku produksi pulp, dengan produksi sistem kimiawi diketahui mampu menghasilkan rendemen pulp sebesar 49.5 %. Kayu yang berasal dari pohon yang sudah tua, sangat bagus untuk digunakan sebagai material untuk konstruksi.
j)   Silvikultur jenis.  Seleksi provenance sangat penting jika kita akan membudidayakan E.urophylla. Hasil beberapa uji provenance menunjukkan bahwa provenance yang berasal dari ketinggian tempat tumbuh diatas 1500 m d.p.l, menghasilkan pertumbuhan yang buruk jika ditanam pada dataran rendah, sementara itu provenance yang berasal dari tempat tumbuh dengan ketinggia 300-1100 m d.p.l. (dataran rendah), diketahui menunjukkan pertumbuhan yang baik jika ditanam di daerah dataran rendah. Selain itu provenance yang berasal dari dataran rendah dengan kondisi iklim yang kering, menunjukkan pertumbuhan yang baik jika dibudidayakan pada kondisi iklim humid-sub humid, tropis-sub tropis dengan bulan kering 1-5 bulan, bahkan pada daerah yang mengalami musim dingin. E.urophylla biasanya diperbanyak dengan menggunakan biji/benih. Jumlah benih per kg mencapai 450.000 benih. Pohonnya akan mulai berbunga pada usia 2 tahun, dan akan mulai menghasilkan biji yang banyak pada usia 4 tahun. Persemaian spesies ini diawali dengan melakukan penaburan biji, dimana sebelum ditabur biji tidak diberikan perlakuan apapun. Setelah disemai, ketika semai sudah memiliki 2 pasang daun, semai akan dipindahkan ke kontainer. Sebagai media tumbuh sangat baik digunakan media yang remah dan berdrainase baik. Bibit akan siap ditanam di lapangan ketika mencapai tinggi minimal 25 cm, dengan masa produksi 10-12 minggu. Selain itu E.urophylla maupun hybrid dari E.urophylla dan E.grandis dapat diperbanyak dengan sistem vegetatif melalui stek batang. Silvikultur intensive dengan pengolahan tanah dan aplikasi pupuk N, P dan K sangat penting untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman yang baik. Spesies ini sangat sensitif dalam bersaing dengan gulma, sehingga pada usia hingga 12 bulan sebaiknya tanaman berada dalam kondisi bebas gulma.
E.urophylla memiliki pertumbuhan yang sangat baik jika kondisi lingkungannya mendukung, dengan kondisi lingkungan dan tindakan silvikultur yang baik tegakan spesies ini mampu memiliki MAI 20-30 m3/ha/tahun. Provenance tertentu bahkan bisa menghasilkan MAI hingga 50 m3/ha/tahun. E.urophylla dengan pertumbuhan yang sangat baik terdapat di Amerika Selatan seperti Brazil, Afrika seperti Kamerun, Congo dan Pantai Gading. Provenance yang berasal dari dataran rendah seperti yang berasal dari pulau  Flores, Alor dan Timor biasanya memiliki pertumbuhan yang lebih cepat (Vercoe dan House 1992).
k)  Hama dan penyakit. Kanker batang yang disebabkan oleh  Cryphonectria cubensis, serangan jamur akar yang diakibatkan oleh Botryodiplodia sp. Fusarium sp dan Helminthosporium sp. Adalah beberapa penyakit yang diketahui menyerang pohon E.urophylla. Selain itu pada bibit dan tanaman kecil, serangan rayap dan penggerek batang yang diakibatkan oleh Zeuzera coffea. ( Hanum and Van der Maesen, ed. 1997)

2. Eucalyptus pellita

a) Nama Botani. Eucalyptus pellita F. Muell. Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1864. Nama pellita berasal dari pellitus = Kulit Penutup, istilah ini mengacu pada daunnya yang mepunyai lapisan epidermis.
b)  Nama Umum. Di Australia dikenal dengan nama red mahagony.
c)   Family. Myrtaceae (jambu-jambuan)
d)  Gambaran Botani. E.pellita memiliki ukuran pohon medium dengan tinggi pohon mencapai 40 m dan diameter mencapai 1 m. Memiliki batang yang lurus hingga setengah bagian dari tinggi pohon. Pada kondisi lingkungan yang tidak sesuai spesies ini hanya mampu mencapai tinggi 15-20 m saja.
e)  Sebaran Alami. E.pellita tersebar di dua daerah utama yaitu, di daerah Muting Papua dan Papua New Guinea serta di Queensland. Berada dalam letak geografis 12°45’-18°40’ Lintang Selatan (Untuk daerah sebaran di Australia) dan 7°30’-8°35’ Lintang Selatan (untuk daerah sebaran di Papua). Ketinggian tempat tumbuh dari 0-800 m d.p.l. (untuk sebaran Australia) dan 30-90 m d.p.l (untuk sebaran di Papua).
f)   Iklim. sepesies ini tumbuh baik pada zona iklim humid hangat, dengan suhu maksimum di bulan kering mencapi 24°-34°C, dan suhu rata-rata di bulan basah 4°C-19°C. Rata-rata curah hujan 1000-4000 mm/tahun.
g)  Fisiografi dan Kondisi Tanah. di Papua populasi spesies ini tersebar terpencar (scatter), tumbuh dilokasi yang berada diantara area terbuka yang basah karena memiliki drainase yang buruk  dan hutan hujan yang subur. Tempat tumbuhnya memanjang dan sempit ditengah-tengah kedua lokasi tersebut, dengan lebar sekitar 100 m saja. Tanah tempat tumbuhnya sangat bervariasi dari mulai tanah dangkal berpasir yang bercampur batu-batuan, tanah podsolik dangkal, juga tanah lempung yang dalam. Di Papua spesies ini ditemukan tumbuh juga pada kondisi tanah berwarna merah dengan tekstur liat dan lempung liat.
h)  Type vegetasi. E.pellita (mahoni merah/red mahagony), tumbuh pada areal hutan terbuka. Berasosiasi dengan E.teriticornis, E.tessellaris, E.intermedia, E.torelliana. Di papua E.pellita berasosiasi dengan E.brassiana, dan diketahui terjadi hybrid antar keduanya. Selain itu di Papua juga berasosiasi dengan Acacia aulacocarpa, A.mangium, Laphostemon suaveolans (Paijman 1976).
(Dikutip Doran and Turnbull 1997, Hardwood et al 1997, http://www.dpi.qld.gov.au/)

3. Eucalyptus camaldulensis
a) Nama Botani. Eucalyptus camaldulensis Dehnh. Nama camaldulensis berasal dari nama kota Camalduli, di Tuscany Italia, tempat dimana spesies ini dibudidayakan. Spesies ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1832.
b)  Family. Eucalyptus camaldulensis termasuk kedalam family Myrtaceae (jambu-jambuan)
c)  Nama umum. River red gum, Red gum, Murray red gum, River gum (Australia)
d)  Gambaran Botani (Botanical Features). Di Australia, E.camaldulensis rata-rata mencapai tinggi pohon 20 m, bahkan ada yang mencapai tinggi 50 m, dengan DBH mencapai 1-2 m atau lebih. Di areal terbuka dengan jumlah tanaman yang jarang, spesies ini membentuk pohon yang pendek, dengan batang yang gemuk dan berbonggol, serta tajuk yang lebar. Di plantation, spesies ini mampu tumbuh hingga mencapai tinggi batang 20 m, dengan tajuk yang tidak terlalu lebar. Kulitnya halus dan putih, abu-abu, atau kecoklatan.
e)  Sebaran Alami. E.camaldulensis tersebar luas pada berbagai lokasi, seperti layaknya genus Eucalyptus lainnya. Terutama di daratan Australia. Tumbuh disepanjang aliran air dan dataran rendah yang tergenang temporer. Tetapi juga terdapat pada daerah-daerah dataran tinggi. Tersebar pada posisi geografis 12°30’-38° Lintang Selatan dan ketinggian tempat tumbuh 20-700 m d.p.l.
f)  Iklim. E.camaldulensis tumbuh pada berbagai kondisi iklim, dari mulai daerah hangat hingga panas, sub-humid hingga semi-arid, dengan suhu rata-rata pada bulan kering mencapai 24-40°C, dan suhu rata-rata pada bulan basah mencapai 3-15°C. Rata-rata curah hujan tahunan adalah 250-600 mm.
g) Fisiografis dan Tanah. E.camaldulensis tumbuh pada berbagai type tanah. Tumbuh dengan baik pada tanah dengan tekstur liat yang tinggi (heavy clay), juga tumbuh baik pada tanah alluvial dengan tekstur pasir.
h)  Type vegetasi. E.camaldulensis merupakan spesies yang tumbuh di sepanjang tepian sungai, dan di daerah kering di Australia. Pada daerah-daerah yang mendekati dataran tinggi di Australia, spesies ini berasosiasi dengan E.coolabab, E.largiflorens, E.leucoxylon, E.microcarpa, dan E.melliondra.
i)   Manfaat/penggunaan. Kayu dari E.camaldulensis  sangat baik untuk digunakan sebagai kayu bakar dan arang, bahkan di beberapa negara, kayu E.camaldulensis  banyak yang digunakan untuk produksi arang sebagai sumber energi pada pabrik besi dan baja. Spesies ini memiliki density yang cukup baik dan kemampuan trubusan yang baik sehingga cocok digunakan untuk penghasil kayu energi. Selain itu kayu yang berasal dari pohon yang baik, dapat digunakan untuk furniture, karena memiliki karakter kayu yang menarik. Spesies ini memiliki berat jenis basah kayu sebesar 500-700 kg/m3 untuk kayu yang berasal dari tanaman muda dan 1130 kg/m3 untuk kayu yang berasal dari tanaman tua. Karena densitynya yang cukup tinggi maka kayu dari spesies ini mampu menghasilkan rendemen yang tinggi jika akan diproduksi menjadi arang atau pulp (Moura 1986).
j)   Silvikultur jenis. E.camaldulensis banyak dikembangkan dengan menggunakan biji. Jumlah biji per kg mencapai 700.000 biji. Benih yang baik memiliki kadar air 5-8% dan dapat dilakukan penyimpanan pada tempat penyimpanan dengan suhu 3-5°C, sehingga benih dapat terjaga viabilitasnya dengan baik hingga beberapa tahun. Tidak ada perlakuan biji sebelum dilakukan penaburan. Biji ditabur ditempat yang ternaungi dengan suhu optimum 32°C. Biji akan mulai berkecambah pada hari ke tujuh setelah penaburan. Setelah itu kecambah dapat disapih kedalam kontainer. Naungan diperlukan selama minggu pertama setelah penyapihan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan ketika tingginya sudah mencapai 30 cm dengan masa produksi 12 minggu. Selain itu spesies ini juga dapat dikembangkan secara vegetatif dengan menggunakan stek batang. Pengendalian gulma sangat penting, karena spesies ini sangat sensitif dengan gulma. Aplikasi pupuk lengkap N, P dan K sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Spesies ini mampu menghasilkan kayu hingga 70 m3/ha/tahun pada usia 4 tahun jika ditanam pada tempat yang sesuai dan irigasi yang baik. Tetapi pada kondisi yang tidak sesuai pertumbuhannya bisa kurang baik dengan hasil 5-10 m3/ha/tahun yaitu pada areal kering.
k)   Hama dan penyakit. Di nursery spesies ini dapat terserang jamur yang menyebabkan damping-off (rebah semai), busuk batang dan bercak daun. Selain itu serangan rayap juga menyerang bibit di persemaian. Jika sudah menjadi tegakan, spesies ini dapat terserang berbagai serangga dan fungi.


4. Eucalyptus grandis
a)   Nama Botani. Eucalyptus grandis Hill ex Maiden
b)   Family. Eucalyptus grandis termasuk kedalam family Myrtaceae (jambu-jambuan)
c)   Nama umum. Rose gum, Flooded gum (Australia)
d)   Gambaran Botani (Botanical Features). E.grandis (rose gum) adalah species utama yang tumbuh di hutan primer Queensland dan New Sout Wales Australia. Pohonnya dapat mencapai tinggi 43-55 m dan diameter mencapai 122-183 cm. Bentuk pohonnya sangat tinggi, lurus dan batang bebas cabang mencapai dua pertiga dari tinggi pohon. Kulitnya tipis dan sedikit mengelupas, kulitnya bergalur vertikal dengan permukaan yang halus, ditandai dengan salur-salur berwarna putih keperakan, abu-abu, terra cotta, atau hijau muda. Pada ketinggian hingga 2 m dari pangkal batang, kulit batang terlihat pecah-pecah secara vertikal.
e)  Sebaran Alami. E.grandis meyebar alami pada daerah berlembah ataupun datar yang berada pada jarak sekitar 160 km dari laut, berada di Queensland dan New South Wales pada posisi geografis 26-30° Lintang Selatan dan 13° Lintang Selatan.
f)    Iklim : E.grandis tumbuh alami pada daerah dengan iklim humid – sub tropis dengan rata-rata suhu minimum pada saat bulan basah adalah 2-10°C, dan suhu rata-rata maksimum pada saat bulan kering adalah 29°C. Curah hujan rata-rata tahunan 1020-1780 mm.
g)  Fisiografis dan Tanah: E.grandis tumbuh pada pada daerah datar atau lereng-lereng curam di Queensland dan New South Wales. Spesies ini tumbuh dengan baik pada tempat-tempat yang lembab atau basah, berdrainase baik, tanah dalam, tanah alluvial berlempung yang berasal dari letusan gunung berapi. Spesies ini juga dapat tumbuh pada tanah dengan tekstur liat, asalkan memiliki drainase yang baik.
h)    Type vegetasi: E.grandis yang tumbuh di areal terbuka di tempat alaminya, berasasosiasi E. intermedia, E. pilularis, E. microcorys, E. resinifera, and E. saligna, as well as Syncarpia glomulifera, Tristania conferta, dan Casuarina torulos. E.grandis biasanya tumbuh disekeliling hutan hujan tropis, juga terdapat di dalam hutan hujan tropis.
i)   Manfaat/penggunaan.  Kayu dari E.grandis memiliki warna merah muda cerah pada bagian luarnya dan merah kehitam-hitaman pada kayu bagian tengahnya. Kayu E.grandis banyak digunakan untuk keperluan konstruksi, kayu perkakas, plywood, panel, untuk pembuatan perahu dan tiang pancang. Selain itu kayu dari spesies dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pulp. Basic Density pada kondisi kering tanur katu E.grandis  sekitar 450 kg/m3.
j)   Silvikultur jenis.  E.grandis merupakan spesies yang sangat intoleran, sehingga sangat terganggu pertumbuhannya apabila terdapat naungan. Pemupukan dan pengendalian gulma sangan penting. Pengendalian gulma setelah tanam yang dilakukan secara intensif, diketahui sangat berpengaruh untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Aplikasi herbisida untuk pengendalian gulma sebaiknya dilakukan sampai 24 bulan setelah tanam.
k)  Hama dan penyakit. Di persemaian bibit E.grandis dapat terserang Cylindrocladium scoparium yang menyebabkan terjadinya busuk pada batang bibit. E.grandis di plantation dapat mengalami kanker pangkal batang yang diakibatkan oleh Cryphonectria cubensis. Di negara India juga dilaporkan bahwa spesies ini di plantation usia 1 tahun juga dapat terserang rayap.
(dikutip dari Meskimen and Francis dalam http://www.na.fs.fed.us/; Hunde et al 2002 ; BOSTID 1983; Latifah, 2004;

5. Eucalyptus deglupta

a)  Nama Botani. Eucalyptus deglupta Blume, Eucalyptus multiflora A. Rich. ex A. Gray non Poir. Eucalyptus naudiniana F. Muell. Eucalyptus schlechteri Diels.
b)   Family. Eucalyptus  deglupta termasuk kedalam family Myrtaceae (jambu-jambuan)
c)   Nama umum. (English): deglupta, Mindanao, gum (Filipina) : amamanit, bagras, banikag, Dinglás (Indonesia) : aren, galang, leda      (Pidgin English) : kamarere
d)  Gambaran Botani (Botanical Features). Pohon E.deglupta dapat mencapai tinggi 60 m-75 m, bentung batangnya lurus dan bulat dengan tinggi batang bebas cabang mencapai 50-70 % dari seluruh tinggi pohon, dengan diameter mencapai lebih dari 240 cm. Memiliki kulit batang yang halus, warannya kombinasi antara kuning, coklat dan keunguanan, tetapi biasanya berwarna hijau jika bagian luarnya terkelupas.
e)  Sebaran Alami. E.deglupta tersebar alami di indonesia, Papua New Guinea dan Philiphina. E.deglupta memerlukan sinar matahari yang banyak, di tempat aslinya ditemukan tumbuh disepanjang sunga. Spesies ini juga ditemukan pada daerah-daerah yang sempat terbuka akibat kegiatan manusia ataupun bencana alam, seperti areal bekas terkena letusan gunung berapi, dan perladangan berpindah. E. deglupta secara umum membentuk tegakan yang murni, atau tidak berasosiasi dengan spesies lain. Walaupun demikian pada beberapa tempat E.deglupta  dengan Octomeles sumatrana, sebagai spesies invasif pada hutan sekunder. E.deglupta adalah satu-satunya anggota genus Eucalyptus yang dapat beradaptasi dengan baik pada hutan hujan pegunungan dataran rendah. Spesies ini tidak dapat tumbuh dengan baik, pada daerah kering, tetapi mampu tumbuh dengan baik pada daerah dengan curah hujan tahunan tinggi yaitu diatas 1800 mm/tahun. Walaupun menyukai daerah dengan curah hujan tinggi, spesies ini tidak menyukai areal tergenang, dan sangat sensitif terhadap gangguan api. Daerah tropis dengan curah hujan tinggi, merupakan lokasi yang baik untuk mengembangkan E.deglupta dalam skala luas.
f)  Iklim : E.deglupta  tersebar di daerah dengan iklim tropis, pada ketinggian 0-1800 m d.p.l., dengan rata-rata suhu tahunan 23-31°C, rata-rata curah hujan tahunan 2500-5000 mm/tahun.
g)  Fisiografis dan Tanah : E.deglupta tumbuh dengan baik pada tanah dengan teksur pasir/ringan dan tanah bertekstur lempung, tanah yang berasal dari abu vulkanik dengan pH 6-7.5, tanah dalam, dengan draianse yang baik.
h)  Manfaat/penggunaan E.deglupta. Kayu dari spesies ini dapat digunakan sebagai kayu bakar atau arang, bahan baku pulp, dengan sistem produksi pulp secara kimia spesies ini akan menghasilkan pulp dengan warna yang cerah dan kuat (strength) dengan rendemen pulp mencapai nilai 50 %. Selain itu kayu E.deglupta dapat dijadikan sebagai bahan baku particel board dan hardboard dan bahan baku untuk furniture. Basic density kayu E.deglupta bervariasi dari mulai 390-810 kg/m3.
i)   Silvikultur jenis.  E.deglupta dapat diperbanyak dengan menggunakan biji dan stek. Biji akan mulai berkecambah pada 4-20 hari setelah tabur. Daya kecambahnyanya mencapai 50-60%. 1 gram biji yang kering dapat menghasilkan 1000-2000 bibit. Kecambah harus berada dibawah naungan. Ketika kecambah sudah memiliki 2-3 pasang daun, kecambah dapat segera di pindahkan ke container. Selanjutnya bibit memerlukan sinar matahari penuh. Ketika bibit sudah memiliki tinggi 25-30 cm atau setelah 3-4 bulan pemeliharaan, maka bibit siap ditanam di lapangan. Dua minggu sebelum dilakukan penanaman, bibit harus dijarangi, dikurangi frekuensi penyiramannya, dan tidak diberi naungan. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan melakukan stek batang.
Pertumbuhan E.deglupta sangat cepat, jika dilakukan silvikultur dengan intensif. Pemupukan dan pengendalian gulma sangat penting dilakukan. Pengendalian gulma harus dilakukan hingga tanaman berusia 2 tahun. MAI spesies ini bervariasi dari 15-55 m3/ha/tahun.
j)  Hama dan penyakit. Hama rayap adalah hama yang paling banyak menyerang baik itu di hutan alam ataupun plantation. Selain itu spesies ini dapat terserang penggerek batang yang diakibatkan oleh Agrilis sp. Pada tanaman yang sudah dewas, penyakit heart rot juga menyerang spesies ini. Di persemaian bibit E.deglupta dapat terserang fungi sehingga menyebabkan damping-off.(www.worldagroforestry.org; http://www.proseanet.org/prohati2 ; BOSTID 1983;  http://idl-bnc.idrc.ca/dspace/bitstrem)

Ringkasan mengenai deskripsi E.camaldulensis, E.deglupta, E.grandis, E.torelliana, E.citorodora, E.pellita, E.urophylla, E.teriticornis dan E.globulus  yang merupakan species Eucalyptus spp. sudah banyak dibudidayakan diberbagai belahan dunia .. Ringkasan ini dikutip langsung dari Tropical Forest Paper No 15 – A Guide for Species Selection for Tropical and Sub tropical Plantation (Webb et al, 1984)